ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI
DAN NILAI KEMISKINAN
DISUSUSN
OLEH : KELOMPOK. IV
PRODI :
MATEMATIKA
NAMA : ADHE
SATRIA (4008221)
ASTUTI (4008 )
BADRU RAHMAN (4008 )
ERWANTI (4008 )
WIDURI (4008 )
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
( STKIP –
PGRI LUBUKLINGGAU )
TAHUN
2009/2010
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan
Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat serta hidayah-Nya sehingga
penyusunan tugas ini dapat diselesaikan.
Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas mata kuliah ISD dengan judul “Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Nilai
Kemiskinan”.
Demikianlah tugas ini disusun semoga bermanfaat, agar
dapat memenuhi tugas mata kuliah Keamanan Jaringan Informasi.
Lubuklinggau, November 2009
Kelompok IV
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL
………………………………………………………… i
KATA PENGANTAR
………………………………………………………. ii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………… iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…………………………………………………... 1
B. Perumusan masalah……………………………………………… 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Ilmu Pengetahuan……..…………………….……………………. 3
B. Teknologi ……….………………………….……………..……… 6
C. Nilai Kemiskinan …………………..…………….……………..……… 8
D. Ilmu Pengetahuan Teknologi, dan kaitannya dengan Nilai Kemiskinan.. 11
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan ……………………………………………………. 13
B. Saran ……………………………..…………………………… 13
BAB IV DAFTAR PUSTAKA ……………….…………………………… 15
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Berbicara tentang ilmu pengetahuan, teknologi dan Nilai
Kemiskinan tidak mustahil kita akan melihat ke masa lampau atau masa depan yang
penuh dengan ketidakpastian. Yang mungkin permasalahannya adalah kontinuitas
dan perubahan, harmoni dan disharmoni.
Bahasa “ilmu pengetahuan” sudah lazim digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Terdiri dari dua kata yaitu “ilmu” dan “pengetahuan”.
Namun, berbicara tentang pengetahuan saja akan menghadapi berbagai masalah,
seperti kemampuan kita dalam memahami fakta pengalaman dan dunia realitas,
hakihat pengetahuan, kebenaran, kebaikan, membentuk pengetahuan, sumber
pengetahuan dan sebagainya.
Teknologi dalam penerapannya sebagai jalur utama yang
dapat menyonsong masa depan, sudah diberi kepercayaan yang mendalam. Dia dapat
mempermudah kegiatan manusia, meskipun mempunyai dampak sosial yang muncul
sering lebih penting artinya daripada kehebatan teknologi itu.
Nilai Kemiskinan sendiri merupakan tema sentral dari
perjuangan bangsa, sebagai perjuangan yang akan memperoleh kemerdekaan bangsa
dan motivasi fundamental dari cita-cita masyarakat adil dan makmur. Berbicara
tentang Nilai Kemiskinan akan menghadapkan kita pada persoalan lain, seperti
persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok, posisi manusia dalam lingkungan
sosial dan persoalan yang lebih jauh, bagaimana ilmu pengetahuan (ekonomi) dan
teknologi memanfaatkan sumber daya alam untuk mengurangi Nilai Kemiskinan di
tengah masyarakat.
B. PERMASALAHAN
Dari uraian di atas, adalah tugas penulis untuk menjelaskan
masing-masing pengertian judul dan keterkaitannya. Mengenai batasan dan rumusan
masalah pada makalah ini, kami mengutamakan pada 2 point, yaitu :
- Apakah ilmu pengetahuan, teknologi dan Nilai Kemiskinan itu ?
- Bagaimana kaitan antara perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan Nilai Kemiskinan ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Ilmu Pengetahuan
Di kalangan ilmuwan ada keseragaman pendapat, bahwa “ilmu”
itu selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dalam
pangkal tumpuan (objek) tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/ logis,
empiris, umum dan akumulatif. Sedangkan dalam memberikan pengertian pada
“pengetahuan”, Bacon dan David Home, menyatakan pengetahuan sebagai
pengalaman indera dan bathin, Immanuel Kant menyatakan bahwa
pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman, sedangkan teori Phyrro
menjelaskan bahwa tidak ada kepastian dalam pengetahuan.
Dari pandangan diatas, kita memperoleh sumber-sumber pengetahuan
yaitu : ide, kenyataan, kegiatan akal budi, pengalaman atau meragukan karena
tidak adanya sarana untuk mencapai pengetahuan yang pasti. Sedangkan secara
umum, dapat diartikan bahwa pengetahuan adalah kesan dalam pemikiran manusia
sebagai hasil penggunaan panca inderanya yang berbeda sekali dengan
kepercayaan, dan penerangan-penerangan yang keliru.
Dari pengertian ilmu dan pengetahuan di atas, dapat dikatakan bahwa ilmu
pengetahuan adalah pengetahuan yang tersusun dengan sistematis dengan
menggunakan kekuatan pemikiran, yang selalu dapat diperiksa dan dikontrol
dengan kritis oleh setiap orang yang ingin mengetahuinya.
Unsur pokok dalam suatu ilmu
pengetahuan adalah :
- Pengetahuan, sebagaimana pengertian di atas.
- Tersusun secara sistematis. Tidak semua pengetahuan merupakan ilmu, hanyalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis saja yang merupakan ilmu pengetahuan. Sistematik berarti urutan-urutan strukturnya tersusun sebagai suatu kebulatan. Sehingga akan jelas tergambar apa yang merupakan garis besar dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Sistem tersebut adalah sistem konstruksi yang abstrak dan teratur. Artinya, setiap bagian dari suatu keseluruhan dapat dihubungkan satu dengan lainnya. Abstrak berarti bahwa konstruksi tersebut hanya ada dalam pikiran, sehingga tidak dapat diraba ataupun dipegang. Ilmu pengetahuan harus bersifat terbuka artinya dapat ditelaah kebenarannya oleh orang lain.
- Menggunakan pemikiran yaitu menggunakan akal sehat. Pengetahuan didapatkan melalui kenyataan dengan melihat dan mendengar serta melalui alat-alat komunikasi.
- Dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau masyarakat umum.
Ilmu pengetahuan harus dapat dikemukakan, harus diketahui oleh umum
sehingga dapat diperiksa dan dikontrol umum yang mungkin berbeda pemahamannya.
Dari sudut
penerapannya, ilmu pengetahuan dibedakan antara ilmu pengetahuan murni dan
ilmu pengetahuan terapan. Ilmu pengetahuan murni bertujuan membentuk
dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak untuk mempertinggi mutunya.
Ilmu pengetahuan terapan bertujuan menggunakan dan menerapkan ilmu pengetahuan
tersebut ke dalam masyarakat untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi.
Dalam kehidupan di dunia ini, manusia tidak akan pernah lepas dari
keterkaitan dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Sebagai fithrah yang
membedakan manusia dengan makhluk yang lain adalah adanya akal pikiran manusia
yang menjadi dasar munculnya ilmu pengetahuan. Dalam hidup ini, manusia selalu
menggunakan ilmu pengetahuan untuk mempermudah kegiatan mereka. Ilmu
pengetahuan selain tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan
pemikiran juga harus mengandung nilai etis dan moral. Yaitu bermakna, berarti
atau berguna bagi kehidupan manusia. Pemanfaatan ilmu pengetahuan hendaknya
didasari pada hal-hal yang asasi, untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Ilmu pengetahuan yang tidak dilandasi dengan etika dan moral hanya akan membawa
penderitaan bagi orang lain. Karenanya, alangkah sangat bijaksana apabila
manusia dapat memanfaatkan ilmunya untuk mempelajari berbagai gejala atau
peristiwa yang mempunyai manfaat bagi manusia.
Dunia modern saat ini tidak bersikap netral terhadap penyelidikan
ilmiah, sebab manusia hidup dalam satu dunia, hasil ilmu pengetahuan harus
membawakan manfaat bagi kehidupan manusia bukan penderitaan. Manusia dalam
pekerjaan ilmiah tidak hanya bekerja dengan akal budi saja, melainkan dengan
seluruh eksistensinya dengan seluruh keberadaannya, dengan hatinya dan dengan
panca inderanya. Sehingga manusia dalam mengambil keputusannya, membuat
pilihannya terlebih dahulu mendapatkan pertimbangan dengan ajaran agama, nilai
etika dan norma kesusilaan.
Konteks ilmu dengan ajaran agama dalam rangka meningkatkan ilmuwan
itu sendiri sejajar dengan orang yang beriman pada derajat yang tinggi, sebagai
pemegang amanat khalifah di muka bumi.
B. TEKNOLOGI
Menurut Walter Buckingham yang dimaksud dengan teknologi
adalah ilmu pengetahuan yang diterapkan ke dalam seni industri, oleh karenanya
mencakup alat-alat yang memungkinkan terlaksananya efisiensi kerja menurut
keragaman kemampuan.
Atau menurut pengertian lain, teknologi adalah pemanfaatan ilmu
untuk memecahkan suatu masalah dengan cara mengerahkan semua alat yang sesuai
dengan nilai-nilai kebudayaan dan skala nilai yang ada. Kalau ilmu dasar
bertujuan untuk mengetahui lebih banyak dan memahami lebih mendalam tentang
alam semesta dengan isinya, teknologi bertujuan untuk memecahkan
masalah-masalah praktis serta untuk mengatasi semua kesulitan yang mungkin
dihadapi manusia. Hubungan ilmu pengetahuan dengan teknologi sering diungkapkan
sebagai berikut :
Ilmu tanpa teknologi adalah
steril dan teknologi tanpa ilmu adalah statis (Ilmu
tanpa teknologi tidak berkembang dan teknologi tanpa ilmu tidak berakar.
Yang dimaksud
dengan teknologi tepat guna adalah suatu teknologi yang telah memenuhi tiga
syarat utama yaitu :
a.
Persyaratan Teknis, yang termasuk di dalamnya adalah :
~
memperhatikan kelestarian tata lingkungan hidup, menggunakan sebanyak mungkin
bahan baku dan
sumber energi setempat dan sesedikit mungkin menggunakan bahan impor.
~ jumlah produksi harus
cukup dan mutu produksi harus diterima oleh pasar yang ada.
~
menjamin agar hasil dapat diangkut ke pasaran dan masih dapat dikembangkan,
sehingga dapat dihindari kerusakan atas mutu hasil.
~ memperlihatkan tersedianya
peralatan serta operasi dan perawatannya.
b.
Persyaratan Sosial, meliputi :
~ memanfaatkan keterampilan
yang sudah ada
~
menjamin timbulnya perluasan lapangan kerja yang dapat terus menerus berkembang
~ menekan
seminimum mungkin pergeseran tenaga kerja yang mengakibatkan bertambahnya
pengangguran.
~
membatasi sejauh mungkin timbulnya ketegangan sosial dan budaya dengan mengatur
agar peningkatan produksi berlangsung dalam batas-batas tertentu sehingga
terwujud keseimbangan sosial dan budaya yang dinamis.
- Persyaratan Ekonomik, yaitu :
~ membatasi sedikit mungkin
kebutuhan modal
~
mengarahkan pemakaian modal agar sesuai dengan rencana pengembangan lokal,
regional dan nasional
~ menjamin agar hasil dan
keuntungan akan kembali kepada produsen
~ dapat
mengarahkan lebih banyak produsen ke arah cara penghitungan ekonomis yang
sehat.
Teknologi, selain menimbulkan dampak positif bagi kehidupan manusia,
terutama mempermudah pelaksanaan kegiatan dalam hidup, juga memiliki berbagai
dampak negatif jika tidak dimanfaatkan secara baik. Contoh masalah akibat
perkembangan teknologi adalah kesempatan kerja yang semakin kurang sementara
angkatan kerja makin bertambah, masalah penyediaan bahan-bahan dasar sebagai
sumber energi yang berlebihan dikhawatirkan akan merugikan generasi yang akan
datang.
C. NILAI KEMISKINAN
Nilai Kemiskinan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk problema
yang muncul dalam kehidupan masyarakat, khususnya pada negara-negara yang
sedang berkembang. Nilai Kemiskinan yang dimaksud adalah Nilai Kemiskinan dalam
bidang ekonomi. Dikatakan berada di bawah garis Nilai Kemiskinan apabila
pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti
pangan, pakaian dan tempat berteduh. Atau dengan pendapat lain, yaitu adanya
suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang
dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang
bersangkutan.
Nilai Kemiskinan bukanlah suatu yang terwujud dengan sendiri
terlepas dari aspek-aspek lainnya, tetapi Nilai Kemiskinan itu terwujud sebagai
hasil interaksi antara berbagai aspek yang ada dalam kehidupan manusia.
Terutama aspek sosial dan aspek ekonomi. Aspek sosial adalah adanya ketidaksamaan
sosial di antara sesama warga masyarakat yang bersangkutan, seperti perbedaan
suku bangsa, ras, kelamin, usia yang bersumber dari corak sistem pelapisan yang
ada dalam masyarakat. Sedangkan aspek ekonomi adalah adanya ketidaksamaan di
antara sesama warga masyarakat dalam hak dan kewajiban yang berkenaan dengan
pengalokasian sumber-sumber daya ekonomi.
Sementara itu
klasifikasi atau penggolongan seseorang atau masyarakat dikatakan miskin
ditetapkan dengan menggunakan tolak ukur utama, yaitu :
a. Tingkat
pendapatan. Misalkan saja di Indonesia, tingkat pendapatan digunakan ukuran
kerja waktu sebulan. Dengan adanya tolak ukur ini, maka jumlah dan siapa yang
tergolong dalam orang miskin dapat diketahui. Atau dengan menggunakan batas
minimal jumlah kalori yang dikonsumsi, yang diambil persamaannya dalam kg
beras.
b.
Kebutuhan relatif per keluarga. Dibuat berdasarkan atas kebutuhan minimal yang
harus dipenuhi dalam sebuah keluarga agar dapat melangsungkan kehidupannya
secara sederhana tetapi memadai sebagai warga masyarakat yang layak.
Jika dikaitkan dengan kemakmuran, maka ada dua persepsi masyarakat
yang cukup berlawanan tentang hal ini. Persepsi pertama adalah yang berpikir
rasional dan eksak. Bahwa kemakmuran seseorang diukur dengan jumlah serta nilai
bahan-bahan dan barang-barang yang dimiliki atau dikuasai untuk memelihara dan
menikmati hidupnya. Semakin banyak jumlah dan makin tinggi nilainya, maka akan
makin tinggi taraf kemakmuran hidupnya. Sedangkan persepsi kedua adalah
pandangan masyarakat umum, terutama pedesaan. Mereka beranggapan bahwa
kemakmuran tidaklah berbeda dengan kebahagiaan. Seseorang akan merasa makmur
bila sudah ada keserasian antara keinginan-keinginan dan keadaan materil atau
sosial yang dimiliki atau dikuasainya. Karenanya mereka selalu berusaha untuk
menyeimbangkan antara keinginan dan keadaan materinya. Jika keinginan mereka
berlebih, sementara keadaan materil mereka tidak mencukupi maka mereka harus
mengurangi keinginan yang ada. Begitu juga sebaliknya.
Nilai Kemiskinan menurut pendapat
umum dapat dikategorikan ke dalam 3 kelompok, yaitu :
- Nilai Kemiskinan yang disebabkan aspek badaniah atau mental seseorang. Pada aspek badaniah, biasanya orang tersebut tidak bisa berbuat maksimal sebagaimana manusia lainnya yang sehat jasmani. Sedangkan aspek mental, biasanya mereka disifati oleh sifat malas bekerja dan berusaha secara wajar, sebagaimana manusia lainnya.
- Nilai Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam. Biasanya pihak pemerintah menempuh dua cara, yaitu memberi pertolongan sementara dengan bantuan secukupnya dan mentransmigrasikan ke tempat hidup yang lebih layak.
- Nilai Kemiskinan buatan atau Nilai Kemiskinan struktural. Selain disebabkan oleh keadaan pasrah pada Nilai Kemiskinan dan memandangnya sebagai nasib dan takdir Tuhan, juga karena struktur ekonomi, sosial dan politik.
Usaha memerangi
Nilai Kemiskinan dapat dilakukan dengan cara memberikan pekerjaan yang
memberikan pendapatan yang layak kepada orang-orang miskin. Karena dengan cara
ini bukan hanya tingkat pendapatan yang dinaikkan, tetapi harga diri sebagai
manusia dan sebagai warga masyarakat dapat dinaikkan seperti warga lainnya.
Dengan lapangan kerja dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja
dan merangsang berbagai kegiatan-kegiatan di sektor ekonomi lainnya.
D. ILMU PENGETAHUAN,
TEKNOLOGI DAN KAITANNYA DENGAN NILAI KEMISKINAN
Ilmu pengetahuan, teknologi dan Nilai Kemiskinan memiliki kaitan
struktur yang jelas. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua hal yang tak
terpisahkan dalam peranannya untuk memenuhi kebutuhan insani. Ilmu pengetahuan
digunakan untuk mengetahui “apa” sedangkan teknologi mengetahui “bagaimana”.
Ilmu pengetahuan sebagai suatu badan pengetahuan sedangkan teknologi sebagai
seni yang berhubungan dengan proses produksi, berkaitan dalam suatu sistem yang
saling berinteraksi. Teknologi merupakan penerapan ilmu pengetahuan, sementara
teknologi mengandung ilmu pengetahuan di dalamnya.
Bila ditelaah, ilmu pengetahuan dan teknologi dalam penerapannya,
keduanya menghasilkan suatu kehidupan di dunia (satu dunia), yang diantaranya
membawa malapetaka yang belum pernah dibayangkan. Padahal manusia dalam
pekerjaan ilmiahnya tidak hanya bekerja dengan akal budinya, melainkan dengan
seluruh eksistensinya. Oleh karena itu, ketika manusia sudah mampu membedakan
ilmu pengetahuan (kebenaran) dengan etika (kebaikan), maka kita tidak dapat
netral dan bersikap netral terhadap penyelidikan ilmiah. Sehingga dalam
penerapan atau mengambil keputusan terhadap sikap ilmiah dan teknologi,
terlebih dahulu mendapat pertimbangan moral dan ajaran agama. Ilmuwan selaku
ahli teknologi harus bersikap mempunyai tanggung jawab sosial, yakni tanggung
jawab terhadap masyarakat menyangkut asas moral mengenai penelitian etis
terhadap obyek penelaahankeilmuan dan penggunaan pengetahuan ilmiah (teknologi)
dengan segala akibat sosialnya.
Dalam hal Nilai Kemiskinan struktural, ternyata adalah buatan
manusia terhadap manusia lainnya yang timbul dari akibat dan dari struktur
politik, ekonomi, teknologi dan sosial buatan manusia pula. Perubahan teknologi
yang cepat mengakibatkan Nilai Kemiskinan, karena mengakibatkan terjadinya
perubahan sosial yang fundamental. Sebab Nilai Kemiskinan diantaranya
disebabkan oleh struktur ekonomi, dalam hal ini pola relasi antara manusia
dengan sumber kemakmuran, hasil produksi dan mekanisme pasar. Kesemuanya
merupakan sub sistem atau sub struktur dari sistem kemasyarakatan. Termasuk di
dalamnya ilmu pengetahuan dan teknologi.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
- Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang tersusun dengan sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, yang selalu dapat diperiksa dan dikontrol dengan kritis oleh setiap orang yang ingin mengetahuinya.
- Teknologi adalah pemanfaatan ilmu untuk memecahkan suatu masalah dengan cara mengerahkan semua alat yang sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan skala nilai yang ada
- Nilai Kemiskinan yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
- Ada kaitan yang erat antara iptek dan Nilai Kemiskinan yang dialami oleh masyarakat terutama pada negara yang sedang berkembang seperti Indonesia.
B. SARAN
- Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari harus memperhatikan banyak hal sehingga dapat betul-betul bermanfaat bagi kehidupan manusia tanpa menimbulkan dampak yang begitu berbahaya.
- Penulisan makalah ini tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun demi menyempurnakan makalah ini sangatlah diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Drs. H. Ahmadi, Ilmu
Sosial Dasar. (Semarang : PT. Rineka Cipta, 1991), h.
Drs. H. Hartono, Drs. Arnicun
Azis, MKDU Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta: Bumi Aksara,
1993), h. 326
Drs. Mawardi – Ir. Nur Hidayati, IAD
ISD IBD, (Bandung :CV. Pustaka Setia, 2002), h. 104
Emil Salim, Perencanaan
Pembangunan dan Pemerataan Pendapatan, (Jakarta : Yayasan Idayu, 1982), h.
37
Parsudi Suparlan, Masyarakat
Perkotaan dan Masyarakat Pedesaan, Bahan Penataran ISD se-Indonesia Timur
1-13 Agustus 1981, di Tawangmangu Solo.
Drs. H. Hartono, Drs. Arnicun
Azis, Op.cit, h. 317
Tidak ada komentar:
Posting Komentar